Dari Ayunan Ke Hati

Hujan mulai reda, kabut-kabut mulai bermunculan. Cuaca dingin menyergap. Angin mulai menerjang dan tak peduli kepada yang tengah meriang. Begitulah hari itu kugambarkan. Suasana yang sebenarnya cocok untuk bergalau ria, atau untuk merebus mie dan kuahnya. Atau untuk memikirkan jodoh yang belum tau siapa. Ah, tapi tidak mungkin. Sedang banyak orang di sini. Aku sedang menghadiri acara anak yatim, ratusan orang menghadiri acara ini. Acara berjalan dengan semestinya, adik-adik ini terlihat gembira dengan guyonan sang pembawa acara, aku senang melihat senyuman mereka, begitu polos, seperti tidak ada beban. Padahal aku tahu hidup tanpa Ayah sulit, tapi mereka tak memperlihatkannya sedikit pun kala itu. Jeda acara tiba, anak-anak mulai bermain dengan teman barunya, ada juga yang duduk diam saja. Sedangkan aku mulai merasa bosan dan memilih untuk melihat - lihat sekitar. Ku pandangi halaman yang hijau. Menghela nafas panjang yang menyejukkan, udara yang sama sekali belum tercampur polusi. Tempat yang pas untuk menghabiskan hari tua nanti.
langkah demi langkah membawaku ke tempat yang lebih indah, tempat bermain anak. Ada ayunan dan yang lainnya. Jujur aku sangat senang dengan anak-anak, entahlah, aku jadi ingin kembali kemasa itu lagi, anehnya, ketika aku di masa itu aku ingin cepat-cepat besar seperti sekarang, hahaha dasar manusia. Dengan senyum aku memandangi mereka, tiba-tiba pandanganku tertuju kepada perempuan seumuranku yang tengah mengayunkan ayunan seorang anak kecil. Sambil bercanda dengan sang anak. Ya Tuhan. Cantik sekali. Aku belum ada di surga, tapi kenapa ada bidadari di sini. Tidak, aku tidak berlebihan. Bahkan jika ada yang bertanya tipe kecantikanku seperti apa, aku akan menjawab dengan lantang
 '' SEPERTI DIA !!!! ''. Semakin ku tatap semakin aku tenggelam kepada pesonanya. Adzan maghrib berkumandang, memaksaku pergi dari tempatku saat ini. Perempuan itupun sama meninggalkan tempatnya sekarang. Singkat cerita kamipun selesai mengerjakan shalat maghrib dan isya, juga makan malam yang begitu ku nikmati. Walaupun lauknya tak seberapa, tapi aku sangat bersyukur, percakapan-percakapan yang aku lakukan dengan anak-anak itu sungguh mahal harganya.
malam penampilan anak-anak pun tiba. Dimana anak-anak menampilkan bakat-bakatnya, ada yang bernyanyi, menari dan banyak bakat-bakat lainnya. Aku terkesima dengan mereka, tapi wanita di ayunan sore tadi sedikit mengalihkan aku dari pertunjukan. Ya, aku memikirkannya. Kupandangi semua yang melihat pertunjukan, berharap wajahnya kutemukan. Dan benar saja aku menemukannya, dia di barisan belakang, dekat dengan kegelapan. dia begitu menikmati penampilan demi penampilan, sedangkan aku begitu menikmati senyuman demi senyuman di wajahnya. Tapi waktu menunjukan pukul 9, aku jadi ingat pesan ibuku untuk jangan pulang terlalu malam. Akupun terpaksa meninggalkannya, aku yakin jika kami berjodoh kami akan di kenalkan, atau setidaknya aku akan mengenalnnya, menemukannya. Hari itu begitu ku ingat karena selain karena wanita tadi, saat pulang dari acara aku jatuh dari motor yang aku kendarai, kondisi jalan begitu licin. Untung aku tidak kenapa-napa, aku tidak sedikit pun terluka, aku hanya jatuh cinta.

Comments

Popular posts from this blog

Strategi Bisnis UMKM di Tengah Pandemik

Fase Tidak Menentu

Dilematis Pembelajaran Online ditengah Pandemi