Wajahmu Dan Kenangan Itu

Suatu ketika aku begitu gembira, tak sengaja melihatmu sedang menunggu angkutan umum didepan sebuah toserba.
Gelapnya malam tak mengurangi sedikitpun cahaya di wajahmu.
Seperti kunang-kunang, kau begitu kukenang. Tidak ada lagi wanita yang begitu membekas dihatiku selain dirimu. Meski kita tak banyak waktu untuk saling bicara, tidak banyak hal untuk dikenang. Tapi sungguh, bagiku kenangan tentangmu adalah kenangan paling mahal, kelas tertinggi.
Mari sedikit terbang ke masa lalu untuk sekedar mengenang masa itu.
Waktu itu aku sedang duduk disebuah halaman, menunggu teman menyebalkan yang sedang makan.
Kuperhatikan seorang anak kecil menjual makanan ringan.
Keringat demi keringat, langkah demi langkah beserta keluh dan kesah. Anak itupun duduk karena lelah.
Tiba-tiba seorang wanita datang menghampirinya, memberinya sebuah senyuman penuh kasih sayang sembari menawarkan bantuan. Siapakah wanita itu? ya, itu kamu. Aku tidak tahu yang kamu dan anak itu bicarakan waktu itu.
Tiba-tiba kalian berjalan dan menawarkan kembali barang dagangan yang masih banyak tersisa.
Seketika aku berdoa, semoga kalian menghampiriku '' semoga kesini, semoga kesini ya Allah, semoga kesini '' dan ya! kalian berjalan kearahku. Seketika aku mati rasa, keringat dingin mengucur, jantungku berdetak seolah akan hancur. Kupasang wajah dingin seolah tidak ada yang terjadi, ketakutan datang, aku takut akan salah tingkah ketika berhadapan denganmu nanti. Aku berdoa kembali '' semoga tidak kesini, semoga tidak kesini ya Allah, semoga tidak kesini '' hahaha aku selalu tertawa jika membayangkan betapa labilnya aku pada saat itu.
Doaku yang kedua ternyata tidak dikabulkan, kalian datang menghampiriku. Menawarkan makanan. Tanpa banyak bicara aku langsung mengiyakannya, '' aku beli 2 ya '' ucapku. Untuk mencairkan suasana aku bertanya kepada sang anak '' dek, jualannya dibantu bidadari ya?'' entah darimana kata itu berasal, setahuku bukan itu yang hendak kukatakan kepada anak itu, ah kau kenapa Arka! aku mengutuk diriku sambil merasa malu. Kamu mendengarnya dan hanya tertawa. Sang anak menyaut '' iya kak, kakak ini bantuin aku jualan, kakak ini baik banget deh '' sambil memalingkan wajahnya kepadamu. Wajahmu memerah, sangat indah. '' Ohya ? wah baik ya kakaknya, nanti kamu kalo jualan sama kakak bidadari ini lagi kamu harus cari kakak ya, kakak pasti bakalan beli lagi dan borong deh '' anak itu menjawab seolah tak percaya '' hah beneran kak? '' ''iya beneran'' jawabku lagi. Lalu kamu tertawa dan berkata '' jangan mau dek jangan mau '' aku langsung menjawabnya ''tuh dek liat kakak bidadarinya jahat sama kakak'' anak itu kebingungan, kamipun saling pandang dan tertawa bersama. Singkat cerita kalian berlalu. Meninggalkan senyum di wajahku. Kenangan yang indah. Aku berharap, ah biar kuulang, aku sangat berharap.  Semoga kita bisa membuat kenangan baru, bukan hanya mengenang kenangan lalu.

Comments

Popular posts from this blog

Strategi Bisnis UMKM di Tengah Pandemik

Fase Tidak Menentu

Dilematis Pembelajaran Online ditengah Pandemi